LAZNAS PYI YATIM & ZAKAT
Bantu Bapak Nana
Jawa Barat
Terserang stroke dan Hepatitis B tak surutkan langkah Ustadz Nana. Beliau menolak meminta-minta dan ingin punya warung sembako sendiri agar bisa berobat, bayar kontrakan, serta kembali bantu anak yatim. Yuk, dukung usaha mandirinya sekarang!
Tangan Kaku Dipukul Stroke, Tapi Ustadz Nana Malu Meminta-minta. "Saya Ingin Usaha Warung, Bukan Mengharap Belas Kasihan..."
"Kalau ada yang panggil untuk antar seserahan, alhamdulillah ada uang bayar kontrakan. Tapi kalau sepi berbulan-bulan... saya cuma bisa pasrah dan berdoa, tanpa mau merepotkan orang lain."
Sore itu di sudut mushola kecil kawasan Coblong, Bandung, Ustadz Nana terduduk lelah. Kedua tangannya yang dulu sigap membersihkan rumah Allah dan merangkul anak-anak yatim, kini kaku tak bertenaga. Penyakit stroke membelenggu fisiknya, belum lagi ancaman dari Hepatitis B yang menggerogoti tubuhnya.
Untuk makan sehari-hari, Ustadz Nana mengandalkan pemberian dan kebaikan warga sekitar. Namun, jangankan untuk biaya berobat rutin, uang sewa kontrakan Rp500 ribu per bulan pun sering kali menunggak. Pemasukan satu-satunya hanya mengandalkan imbalan tak seberapa saat Ustadz Nana dipanggil membantu acara seserahan pengantin—sebuah pekerjaan yang kini makin jarang datang. Bahkan sudah 2 bulan terakhir ini tak ada panggilan sama sekali.
Di tengah kondisi yang begitu berat dan sakit yang menjalar, hebatnya tak pernah sekalipun terucap kata meminta-minta dari bibir Ustadz Nana.
Beliau malu jika harus terus mengandalkan belas kasihan. Hatinya jauh lebih teguh dari fisiknya yang renta. Setiap kali ditanya apa yang paling beliau butuhkan saat ini, jawabannya selalu sama: bukan uang tunai cuma-cuma, melainkan modal usaha.
"Saya ingin sekali punya warung sembako atau warkop kecil. Kalau punya usaha sendiri, saya bisa cari makan dengan keringat sendiri, bayar obat, dan tetap bisa beri santunan untuk anak-anak yatim yang biasa saya urus..." ucap Ustadz Nana lirih dengan mata berkaca-kaca.
Bahkan di saat dirinya sendiri tertatih-tatih melintasi ujian hidup, di dalam dada Ustadz Nana masih ada ruang besar untuk memikirkan nasib anak-anak yatim. Beliau ingin sembuh dan berdaya, bukan hanya demi menyambung hidupnya sendiri, tapi agar tetap bisa menjadi pelindung bagi anak-anak yang kehilangan orang tua.
#SahabatDermawan, sungguh mulia hati Ustadz Nana. Beliau tidak menyerah pada penyakitnya, dan beliau menolak untuk menjadi beban bagi orang lain. Semangat dan martabatnya yang tinggi sangat layak untuk kita perjuangkan bersama.
Mari kita wujudkan impian sederhana Ustadz Nana untuk memiliki warung sembako dan warkop mandiri. Hasil usahanya nanti akan menjadi nafas baru untuk biaya berobatnya, kelangsungan hidupnya, dan kebahagiaan anak-anak yatim yang diasuhnya.
Rencana Penggunaan Dana:
Mari alirkan kebaikanmu untuk Ustadz Nana dengan cara:
Berapa pun donasi yang kamu berikan, akan menjadi bukti bahwa kebaikan dan martabat seorang hamba yang berjuang seperti Ustadz Nana tidak pernah berdiri sendirian.